Belakangan
ini kita sering lihat berbagai fenomena-fenomena alam yg terjadi di sekitar
kita. Fenomena alam tadi tentunya tidak terlepas dari tingkat lingkungan
alam sekitar kita, bagaimana kondisi alam sekitar kita tentunya mempengaruhi
kejadian-kejadian alam yang terjadi. Perlu kesadaran juga tindakan nyata dr
kita sebagai upaya untuk menjaga kestabilan lingkungan hidup.
Dahulu kita
bepedoman bahwa segala macam sumber daya bumi ini dapat kita pergunakan dengan
sebayak-banyaknya demi kehidupan manusia, namun seiring perkembangan jaman,
pemanfaatan sumber daya alam tadi berubah menjadi eksploitasi alam yang mana
tidak memperdulikan kelangsungan hidup manusia kedepan, juga tidak memikirkan
berbagai dampak lingkungan yang akan terjadi di masa depan.
Limbah
merupakan hasil sisa buangan dari kegiatan manusia.
Sedikit
ataupun banyaknya jumlah limbah, berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.
Semakin banyak kegiatan manusia untuk menggunakan sumber daya alam pun
mempengaruhi semakin banyaknya limbah yang dihasilkan.
Proses
pemanfaatan kembali limbah bila masih layak untuk digunakan merupakan
upaya untuk mengurangi jumlah limbah, namun biasanya pemanfaatan limbah
memerlukan suatu proses daur ulang untuk menghasilkan suatu produk baru yang
dapat dipergunakan. Proses daur ulang merupakan salah satu upaya untuk
mengurangi jumlah limbah yang tidak terpakai.
Secara umum,
limbah hasil dari kegiatan manusia menurut wujudnya ada yang berupa limbah
padat, limbah cair, serta limbah gas.
Menurut
proses penguraiannya, limbah dibedakan menjadi 2 macam:
Degradable
waste, yaitu limbah yang dapat teurai secara alami melalui proses pembusukan
bakteri/jamur. (sampah sayur/buah, dedaunan, sisa makanan)
Non
degradable waste, yaitu limbah yang sulit untuk diuraikan lagi secara alami.
Biasanya limbah jenis ini yang dijadikan bahan untuk daur ulang. (botol minuman
bekas, sampah steerofoam, kaleng minuman, sampah potongan besi, sampah kaca)
Limbah Korosif
Limbah
korosif, adalah limbah yang dapat menyebabkan iritasi bila mengenai kulit dan
dapat menyebabkan karat bila mengenai logam.
Limbah
korosif memiliki kadar pH dalam air yang tidak boleh kurang dari 2 untuk limbah
berjenis asam, serta untuk limbah berjenis basa tidak boleh melebihi 12,5
Limbah
korosif ini sering kita temui dalam keseharian, contohnya
Produk
pembersih rumah, (pembersih lantai, pemutih pakaian, detergen pencuci)
Produk
pemeliharaan rumah, (cat tembok serta thineer)
Produk
pestisida, (insektisida, racun tikus, kamper pengharum)
Produk
otomotif, (bahan bakar, oli kendaraan, air pengisi accu, obat pembersih
kendaraan)
Produk
kosmetik(kecantikan)
Limbah Beracun
Limbah ini
mengandung unsur kimia yang berbahaya(beracun), yang apabila tercampur dengan
lingkungan sekitarnya akan mengganggu kelangsungan makhluk hidup di sekitarnya
pula, bahkan dampak terburuknya akan berakibat kematian dan pengrusakan.
Negara-negara
di Eropa sangatlah konsen terhadap lingkungan hidup disana, mereka menerapkan
standard yang sangat tinggi untuk limbah yang akan dibuang.
Beberapa
metode dalam meminimalisir limbah beracun, diantaranya
Proses
secara kimia,(redoks, netralisasi, pengendapan, adsopsi, penukaran ion)
Proses
secara fisika,(penetralisiran gas&cairan, metode kristalisasi)
Proses
stabilisas/solidifikasi, metode dengan cara membatasi daya larut, daya sebar,
serta efek dari limbah tersebut sebelum dibuang.
Proses
insinerasi, metode dengan membakar materi limbah tersebut menggunakan alat
insinerator dengan efisisensi pembakaran 99,9% (misalkan bobot limbah yang akan
dibakar 100kg, maka abu sisa dari pembakaran limbah 0,01kg/1gram)
Limbah Reaktif
Limbah ini
memiliki sifat mudah bereaksi dengan oksigen atau limbah organik peroksida yang
tidak stabil dalam suhu tinggi dan dapat menyebabkan perubahan tanpa
peledakan.
Limbah yang
dapat bereaksi hebat dengan air.
Limbah yang
apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas,
uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia
dan lingkungan.
Merupakan
limbah sianida, sulfida, atau amonia yang pada kondisi pH antara 2 dan 12,5
dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan
bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Limbah yang
mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar (25 0 C,
760mmHg).
Limbah yang
menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik
peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
Limbah Muadah Meledak
Limbah Mudah Meledak ( Eksplosive
Waste)
Limbah ini berbahaya selama penanganannya, baik pada saat pengangkutannya maupun saat pembuangannya, karena limbah jenis ini dapat menimbulkan rekasi hebat dan dapat melukai manusia serta dapat merusak lingkungan.
Limbah mudah meledak dapat didefinisikan sebagai :
Limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan cepat, suhu dan tekanan yang tinggi yang mampu merusak lingkungan sekitarnya.
Contoh:
a) Limbah dari pabrik senjata yang menghasilkan bahan eksplosif,(bahan yang mudah terbakar).
b) Limbah kimia khusus dari laboratorium seperti asam prikat (picric acid).
Limbah ini berbahaya selama penanganannya, baik pada saat pengangkutannya maupun saat pembuangannya, karena limbah jenis ini dapat menimbulkan rekasi hebat dan dapat melukai manusia serta dapat merusak lingkungan.
Limbah mudah meledak dapat didefinisikan sebagai :
Limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan cepat, suhu dan tekanan yang tinggi yang mampu merusak lingkungan sekitarnya.
Contoh:
a) Limbah dari pabrik senjata yang menghasilkan bahan eksplosif,(bahan yang mudah terbakar).
b) Limbah kimia khusus dari laboratorium seperti asam prikat (picric acid).
Limbah Mudah Terbakar
Limbah Mudah
Menyala/Terbakar (Flammable Waste)
Limbah ini
berbahaya apabila terjadi kontak dengan buangan (gas) yang panas dari kendaraan,
rokok atau sumber api lain karena dapat menimbulkan kebakaran yang tidak
terkendalikan baik didalam kendaraan pengangkut maupun dilokasi penanaman
limbah (landfill).
Limbah mudah
menyala/terbakar ini didefinisikan sebagai:
Limbah yang
apabila didekatkan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain
akan mudah menyala/terbakar dan apabila telah menyala akan terus terbakar hebat
dalam waktu yang lama.
Contoh umum
dari limbah ini adalah :
Pelarut
seperti benzena, toluena atau aseton. Limbah-limbah ini berasal dari pabrik
cat, pabrik tinta dan kegiatan lain yang menggunakan pelarut tersebut; antara
lain pembersihan metal dari lemak/minyak, serta laboratorium kimia.
Proses Daur Ulang
Limbah dapat
dikurangi dengan cara pemanfaatan ulang dan mendaur ulang limbah. Daur
ulang adalah penggunaan kembali material atau barang yang sudah tidak
digunakan, menjadi produk lain.
Sehingga
dapat meminimalisir baik jumlah maupun dampak dr limbah yang dikeluarkan.
Proses daur
ulang menghasilkan suatu produk baru yang bermanfaat.
Proses daur
ulang limbah memiliki tujuan:
Mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan akibat dari banyaknya jumlah limbah yang tidak
dapat terpakai lagi.
Mengurangi
penggunaan bahan baku, sehingga mengefisiensikan penggunaan sumber daya yang
belum terpakai.
Mengurangi
polusi serta mencegah pengerusakan lahan.
Mencegah
terjadinya efek rumah kaca akibat dari penggunaan sumber daya yang baru.
Menghasilkan
pendapatan dari produk daur ulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar